Minggu, 08 April 2012

Perang Salib di Mesir (versi word)

Perang salib di Mesir
Disusun oleh Adib bin Shohib bin Rodhi bin Abdurrahman bin Saribun
Mahasiswa Ma’had Aly An-Nuur semester V
I.              Pendahuluan
Mesir merupakan negeri yang mempunyai banyak sejarah peradaban, sejak puluhan abad silam telah mempunyai peradaban yang terbilang maju di zamannya. Hal ini dapat kita saksikan lewat bukti-bukti sejarah yang masih ada sampai sat ini, seperti: piramida, Spinx, abu simbel, karnak dll.
Di samping itu, mesir sampai sekarang masih merupakan khaznah ilmu-ilmu keislaman. Di bumi seribu menara ini berdiri dengan kokohnya satu perguran tinggi tertua di dunia. Itulah universitas al Azhar yang tahun ini telah berusia 1030 th. Sebagaimana layaknya sebuah komunitas, mesir tentunya juga memiliki tata kehidupan (sosio cultural) yang tersendiri dari negara-negara lain, dari sini penulis mencoba memberikan gambaran tentang seluk–beluk dan suasana kehidupan negeri ini.
Mesir sering juga di sebut dengan ardhul anbiya (negeri para nabi). Nama mesir sempat di abadikan di dalam al Qur’an sebanyak lima kali. Selain itu ada beberapa hadist nabi yang menyebut langsung nama mesir. Hal ini menujukkan tingginya peranan dan kedudukan mesir dalam sejarah agama islam. Ratusan bahkan ribuan ulama terkemuka lahir dan menjalakan misi dakwahnya di mesir ini.
Penduduk asli mesir beasal dari keturunan Ham bin Nuh as. Dia salah satu putra nabi Nuh as yang menjadi nenek moyang negeri mesir, yaman dan negara-negara di tanduk benua afrika. Sementara putra Nabi Nuh yang lain, Sam bin Nuh as keturunanya tersebar di negara-negara irak, Syam dan sebagian besar negara jazirah arab. Konon sebutan mesir menurut sejarah diambil dari nama cicit nabi Nuh as, yaitu misr bin baishar ham bin Nuh as
Secara geografis mesir terletak di timur laut benua afrika. Yang berhubungan langsung dengan benua asia di daerah sinai. Adapun perbatasan perbatasnnya adalah sebagai berikut :
- sebelah barat berbatasan dengan libya.
- sebelah timur bebatasan dengan palestina dan laut merah.
- sebelah selatan berbatasan dengan sudan.
- sedang sebelah tenggara berbatasan dengan saudi arabia.
Mesir beriklim sub-tropis terdapat 4 musim yaitu:
1. musim dingin, pada bulan desember, januari dan pebruari
2. musim semi, pada bulan maret, april dan mei
3. musim panas, pada bulan juni, juli dan agustus.
4. musim gugur, pada bulan september, oktober dan nopember.
Dari negeri mesir ini pula perlawanan-perlawanan terhadap penjajahan asing begitu kuat, termasuk perlawanan terhadap invasi pasukan salib, berikut ini tahapan-tahapan perang salib di mesir
II.            Tahapan perang salib di Mesir
  1. Tahap pertama
Pada tahun 559 H Mesir berada dalam kekuasaan Daulah Fatimiyah, tepatnya berada pada kekuasaan Syawar bin Mujiruddin, namun kekuasaan Syawar tidak berlangsung lama, sebab gubernur Dargham bin War tidak menyukai kedudukan Syawar bin Mujiruddin. Dargham bin War menghimpun banyak pasukan untuk memberontak pada Syawar bin Mujiruddin. Syawar bin Mujiruddin berhasil dikalahkan, tiga anaknya ditawan, yaitu Thayyib, Sulaiman, dan Kamil. Thayyib dan Sulaiman dibunuh sedangkan Kamil dipenjara. Sedang Dargham sendiri menjadi perdana menteri khalifah Fatimiyah Al-Adhid dan bergelar Al-Manshur
Karena dikalahkan oleh pemberontakan Dargham, Syawar bin Mujiruddin lalu meminta bantuan kepada Nuruddin Mahmud, Nuruddin Mahmud pun menerima dengan baik kedatangan dan permintaan tolong Syawar, Syawar berjanji akan memberikan sepertiga hasil bumi Mesir kepada Nuruddin Mahmud jika Nuruddin Mahmud mau memberikan bala bantuannya untuk membantu Syawar menumpas pemberontak Dargham
Nuruddin Mahmud mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh ke Mesir guna membantu mengembalikan kedudukan Syawar, kedua pasukan pun bertemu dan meledaklah sebuah pertempuran dahsyat, Asaduddin Syirkuh dan pasukannya berhasil memukul mundur pasukan Dargham bin War, bahkan Dargham bin War sendiri berhasil ia penggal lalu kepalanya dibawa keliling ke pelosok negeri
Dengan kemenangan Asaduddin Syirkuh atas Dargham, kembalilah Syawar bin Mujiruddin kepada kedudukannya sebagai perdana menteri. Namun ternyata ia malah melanggar janjinya dan bersekongkol dengan Khalifah Al-Adhid meminta Asaduddin Syirkuh keluar dari negeri Mesir. Tapi permintaan ini tidak digubris oleh Asaduddin Syirkuh, ia tetap berkeliling negeri dan menaklukkan banyak wilayah di timur dan menghimpun banyak kekayaan, ia juga menyiapkan benteng persembunyian dan gudang senjata di kota Balbis
Karena Asaduddin Syirkuh tidak mau pergi keluar dari Mesir, Syawar bin Mujiruddin meminta bantuan kepada pasukan Kristen yang kemudian datang dengan membawa tentara yang begitu besar, mereka mengepung Asaduddin Syirkuh di tempat persembunyian dan gudang senjatanya di kota Balbis, pengepungan ini terjadi selama delapan bulan
Kepergian pasukan kristen dari wilayah mereka ini dimanfaatkan dengan baik oleh Nuruddin Mahmud, ia pergi ke wilayah-wilayah Kristen dan membunuh banyak sekali orang-orang Kristen. Nuruddin Mahmud juga berhasil menembus jantung pertahanan wilayah-wilayah orang-orang Kristen dan menawan raja-rajanya, diantaranya Benjamin raja Antakiyah, Qumsh raja Tarablus, dan Dauq raja Romawi
Apa yang terjadi ini diketahui oleh Mary raja Asqalan yang sedang berjuang mengusir Asaduddin Syirkuh, ia sangat terpukul atas hal itu, lalu ia mengajak Asaduddin Syirkuh berdamai. Asaduddin Syirkuh mau berdamai dengan syarat Syawar bin Mujiruddin membayar enam puluh ribu dinar sebagai hukuman atas penghianatannya. Lalu Mary pulang ke Asqalan dan Asaduddin Syirkuh ke negeri Syam
  1. Tahap kedua
Tanpa diduga ternyata Syawar bin Mujiruddin membuat perjanjian rahasia dengan raja Asqalan, yaitu untuk melindunginya dari ancaman pihak luar. Mengetahui hal ini Asaduddin Syirkuh berinisiatif untuk membebaskan bumi Mesir dari penghianat seperti Syawar bin Mujiruddin ini, oleh karena itu ia bertekad untuk menaklukkan Mesir dan mengintegrasikan (menyatukannya) kedalam wilayah kekuasaannya
Nuruddin Mahmud menyiapkan pasukan yang terdiri dari 2000 pasukan kavaleri yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh dan memerintahkan mereka agar pergi menuju Mesir, pasukan Asaduddin Syirkuh berangkat menuju Mesir menyeberangi sungai Nil dan berhenti di Jizah lalu mengepung Mesir. Setelah dua bulan dikepung, Syawar bin Mujiruddin meminta bantuan kepada pasukan Kristen sesuai dengan perjanjian yang telah mereka sepakati. Masuklah pasukan Kristen dari arah Dimyath untuk membantu Syawar bin Mujiruddin, namun hal ini diketahui oleh Asaduddin Syirkuh yang kemudian segera bergerak menuju Sa’id dan memungut pajak dari warganya. Meletuslah pertempuran dahsyat antara pasukan Asaduddin Syirkuh melawan pasukan salib Kristen, pertempuran ini dimenangkan oleh pasukan Asaduddin Syirkuh dan mereka berhasil membunuh banyak sekali pasukan kristen
Ibnu Katsir rh berkata: “Ketika Asaduddin Syirkuh mengetahui besarnya jumlah pasukan Kristen, ia meminta pendapat kepada para gubernurnya, para gubernur menyarankannya agar menghadap Nuruddin Mahmud guna meminta pendapatnya, namun gubernur Syarifuddin Barghisy berpendapat lain, ia berkata: ‘Siapa yang takut terbunuh atau tertawan, maka lebih baik baginya beristirahat di rumah dengan anak istrinya, dan siapa yang memakan harta manusia maka jangan sekali-kali menyerahkan negaranya kepada musuh-musuhnya’.”
Shalahuddin Yusuf bin Ayyub mendukung pendapat yang menginginkan perang melawan orang-orang Perancis (orang-orang kristen) dan Allah taala menguatkan motivasi mereka, kemudian mereka berangkat guna memerangi pasukan Kristen, pertempuran hebat antara kedua belah pihak terjadi dan pertempuran dapat dimenangkan oleh pasukan Islam, mereka berhasil membunuh banyak sekali pasukan Kristen yang hanya Allah taala yang mengetahui banyaknya jumlah pasukan Kristen yang mati
Penaklukan Iskandariyah
Setelah kemenangannya melawan pasukan Kristen di Mesir, Asaduddin Syirkuh segera bergerak menuju Iskandariyah dan menaklukkannya, ia mengangkat saudaranya Shalahuddin Yusuf bin Ayyub sebagai gubernur Iskandariyah, sedangkan ia pulang ke Sha’id. Tapi ternyata Syawar bin Mujiruddin menyusun kekuatan baru dan berkoalisi dengan pasukan Kristen untuk mengepung, menyerang dan merebut Iskandariyah dari tangan Shalahuddin Yusuf bin Ayyub. Shalahuddin Yusuf bin Ayyub mempertahankan Iskandariyah mati-matian meskipun kekurangan logistik, hingga akhirnya datanglah Asaduddin Syirkuh ke Iskandariyah  untuk membantu Shalahuddin Yusuf bin Ayyub, mengetahui hal ini Syawar merasa takut kalau kedua pasukan bersatu untuk mempertahankan Iskandariyah dan menyerangnya maka ia menawarkan perdamaian kepada Shalahuddin Yusuf bin Ayyub dengan memberikan 50.000 dinar, hal ini disetujui oleh Asaduddin Syirkuh dan ia sendiri yang menyerahkan uang itu kepada rakyat Mesir kemudian pulang ke negeri Syam
Syawar bin Mujiruddin memperbarui hubungan dengan pasukan Kristen
Agar hubungan antara Syawar bin Mujiruddin dengan pasukan Kristen tetap erat, juga agar ia tetap menjadi perdana menteri khalifah Fatimiyah, maka ia memberikan kepada pasukan Perancis 100.000 dinar pertahunnya agar pasukan Perancis tetap bertahan di Mesir. Dengan begitu Syawar si perdana menteri penghianat ini mendapat jaminan bantuan pasukan Kristen jika suatu waktu ia mendapat tekanan dari pasukan Islam
Pasukan kristen menerima tawaran Syawar dan kemudian menuju negara-negara yang pernah mereka taklukkan, mereka kaget karena mendapati bahwa benteng-benteng mereka telah ditaklukkan oleh Nuruddin dan banyak sekali rakyatnya yang telah dibunuh, banyak anak dan wanita yang telah ditawan, juga perhiasan dan harta benda mereka yang telah diambil oleh Nuruddin Mahmud
Asaduddin Syirkuh dan pasukan kristen sama-sama meninggalkan Mesir, mereka meninggalkan Mesir karena Mesir sudah dibawah kekuasaan negara Fatimiyah
  1. Tahap ketiga
Setelah pasukan Muslim dan pasukan Kristen yang dipimpin Amuri si raja Baitul Maqdis sama-sama meninggalkan Mesir, yang sebenarnya hal ini tidak disukai oleh pasukan Kristen, mereka menginginkan menguasai Mesir karena Mesir merupakan kunci utama untuk mewujudkan ambisi mereka.
Orang-orang Kristen penentang rencana Amuri menyiapkan pasukan yang besar dan melengkapinya dengan persenjataan lengkap guna memenangkan pertempuran, dengan kekuatan itu mereka menyerang Mesir, dan menjadikan Balbis sebagai markas pasukannya. Setelah itu mereka berangkat menuju kairo yang hal ini diketahui oleh Syawar bin Mujiruddin, ia berpendapat bahwa ini di luar kontrolnya maka ia membakar Mesir dan menyuruh penduduknya agar berpindah ke Kairo, api berkobar dimana-mana dan melumat apapun selama lima puluh empat hari. Ini terjadi pada tahun 564 H
Pasukan Kristen pimpinan raja Asqalan menyerang Mesir, membunuh banyak sekali rakyat Mesir, mereka juga mengancam khalifah Fatimiyah Mesir Al-Adhid, sehingga Al-Adhid terpaksa meminta bantuan kepada sultan Nuruddin Mahmud, ia berkata kepada sultan Nuruddin Mahmud: “Selamatkan wanita-wanita kami dari orang-orang Perancis itu!”
Hal ini dipandang oleh sultan Nuruddin Mahmud sebagai kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan untuk menguasai Mesir, karena dengan hal ini ia dapat melakukan banyak hal, diantaranya:
a.    Mempersempit ruang gerak pasukan Kristen dengan menutup pintu gerbang utama datangnya bantuan external untuk mereka
b.    Menumpas si penghianat, perdana menteri Syawar bin Mujiruddin yang bekerjasama dengan pasukan Kristen untuk memerangi kaum muslimin
c.    Membebaskan Mesir dari penguasaan Fatimiyah dan mengembalikannya kepada madzhab Sunnah yang menjadi madzhab mayoritas kaum muslimin
Sultan Nuruddin Mahmud segera menyiapkan pasukan dibawah komando Asaduddin Syirkuh dan bertolak menuju Mesir, mereka berhasil mengusir pasukan Kristen dan membunuh perdana menteri penghianat pada tahun 584 H
Pada bulan Rabi’ul Akhir tahun itu juga Asaduddin Syirkuh menemui Al-Adhid khalifah Daulah Fatimiyah, kemudian Al-Adhid mengangkat Asaduddin Syirkuh menjadi perdana menteri Daulah Fatimiyah menggantikan Syawar bin Mujiruddin, ia melepas baju dinas Syawar dan memberikannya kepada Asaduddin Syirkuh, setelah itu Asaduddin Syirkuh pulang ke kemahnya di Dzahirul Balad
Namun seperti biasa, kebiasaan kaum Rafidhah adalah menghianati janji ketika mereka telah kuat, khalifah Al-Adhid tidak menepati janjinya kepada sultan Nuruddin Mahmud. Namun Asaduddin Syirkuh tidak ambil pusing dengan hal itu, ia tetap merealisasikan rencananya, mengangkat para gubernur, mengirim duta, dan mengambil pungutan pajak. Asaduddin Syirkuh menjabat khalifah hanya sebentar saja, yaitu dua bulan lima hari. Ia meninggal pada hari sabtu 12 jumadil akhir 564 H
 Sepeninggal Asaduddin Syirkuh maka para gubernur Syam mengusulkan untuk mengangkat keponakan Asaduddin Syirkuh, yaitu Shalahuddin Al-Ayyubi menggantikan pamannya sebagai perdana menteri, khalifah Al-Adhid pun menyetujuinya dan memberinya gelar Al-Malik An-Nashir
Sultan Nuruddin Mahmud sangat gembira dengan ditaklukkannya Mesir oleh Asaduddin Syirkuh. Akan tetapi ada yang mengganjal dalam benak sultan Nuruddin Mahmud yaitu kabar bahwa Asaduddin Syirkuh diangkat menjadi perdana menteri khalifah Fatimiyah Al-Adhid, namun sebelum ia menyingkirkan Asaduddin Syirkuh dari jabatan perdana menteri, Asaduddin Syirkuh keburu meninggal dunia dan jabatannya digantikan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi yang notabene merupakan “orangnya”, ini merupakan kesempatan emas untuk mengikis pengaruh Fatimiyah dan memberikannya kepada Daulah Abbasiyah, Al-Mustanjid Billah. Ia memerintahkan Shalahuddin Al-Ayyubi agar menjadikan do’a dalam khutbah jum’at bagi khalifah Abbasiyah, Al-Mustanjid Billah. Shalahuddin Al-Ayyubi khawatir kalau rakyat Mesir memberontak, kemudian ia bermusyawarah dengan para gubernurnya, di antara mereka ada yang pro dan kontra dengan perintah sultan Nuruddin Mahmud. Kemudian salah seorang non Arab yang terkenal dengan panggilan Al-Amir Al-Alim berkata: “Sayalah yang pertama kali melaksanakan perintah sultan Nuruddin Mahmud”
Maka tepat pada hari jum’at pertama bulan Muharram 567 H, Al-Amir naik mimbar mendahului khatib resmi untuk hari itu kemudian berdo’a untuk khalifah Abbasiyah dan tidak ada seorang pun yang menentangnya. Lalu pada jum’at kedua Shalahuddin memerintahkan seluruh khatib agar memutuskan do’anya untuk khalifah Fatimiyah Al-Adhid, sementara di pihak lain khalifah Fatimiyah Al-Adhid jatuh sakit dan meninggal pada bulan Asyura 567 H. Sebelum itu Shalahuddin Al-Ayyubi memecat seluruh hakim Mesir yang berasal dari aliran Syi’ah dan sebagai penggantinya ia mengangkat hakim yang berasal dari madzhab Syafi’i. Ia juga membangun sekolah-sekolah madzhab Syafi’i dan Maliki dan menghentikan Adzan dengan kata-kata “Hayya ‘ala khairil ‘amal” dari seluruh wilayah Mesir. Dengan begitu tamatlah Daulah kotor Fatimiyah
Pengepungan kota Dimyath pada tahun 567 H
Jatuhnya kursi perdana menteri Mesir kepada Shalahuddin Al-Ayyubi membuat passukan salib cemas. Mereka berpendapat bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi merupakan bahaya besar yang mengancam kerajaan-kerajaan yang mereka dirikan dan lebih khusus lagi kerajaan Al-Quds
Mereka menggelar perang baru dengan harapan perang tersebut dapat menimbulkan instabilitas dan chaos di dalam negeri Mesir sehingga khalifah Fatimiyah Al-Adhid memecat perdana menteri Shalahuddin Al-Ayyubi dan menggantikannya dengan orang yang bisa mereka ajak berkoalisi seperti Syawar bin Mujiruddin. Mereka menyerang kota Dimyath dan memblokadenya selama lima puluh hari, mengamati ruang gerak penduduknya dan membunuh banyak sekali penduduk Dimyath
Penyerangan tersebut diketahui oleh Shalahuddin Al-Ayyubi, ia tahu apa maksud dibalik penyerangan pasukan salib kali ini, segera saja Shalahuddin Al-Ayyubi mengirimkan surat kepada sultan Nuruddin Mahmud agar mengirimkan pasukan tambahan untuk menghadapi pasukan salib di Dimyath. Ia mengatakan kepada sultan Nuruddin Mahmud: “Sesungguhnya jika saya meninggalkan Mesir maka penduduknya akan mengalami penderitaan, jika saya tidak bereaksi dan tidak memerangi pasukan Perancis tersebut maka Dimyath akan jatuh ke tangan mereka dan menjadikannya sebagai markas untuk menguasai Mesir secara keseluruhan”
Surat tersebut mendapat tanggapan serius dari sultan Nuruddin Mahmud mengirim pasukan demi pasukan untuk membantu menguatkan pasukan Shalahuddin Al-Ayyubi. Ia begitu terpukul dan berpikir keras untuk mencari solusi atas pemblokadean Dimyath oleh tentara Perancis, hal ini terlihat ketika pengajian hadits yang membahas keutamaan tersenyum, sultan Nuruddin Mahmud tidak tersenyum sedikitpun, bahkan ketika pemateri mangajak sultan Nuruddin Mahmud tersenyum agar pengajian dilanjutkan sultan nuruddim menolaknya, bahkan ia berkata: “aku malu kepada Allah jika aku tersenyum sementara kaum muslimin di perbatasan Dimyath dikepung oleh tentara salib Perancis”
Kepergian pasukan salib meninggalkan negara-negara basis mereka dimanfaatkan dengan baik oleh sultan Nuruddin Mahmud, ia menyerang negara-negara tersebut dengan pasukan besar, mendapatkan harta rampasan yang banyak sekali, membunuh, dan menawan banyak wanita dan anak-anak. Mendengar penyerangan sultan Nuruddin Mahmud ke basis-basis mereka, pasukan salib akhirnya pulang ke basis-basis mereka tersebut, dengan begini sukseslah skenario yang dirancang oleh sultan Nuruddin Mahmud
Hubungan sultan Nuruddin Mahmud dengan Shalahuddin Al-Ayyubi
Sebenarnya sultan Nuruddin Mahmud tidak begitu senang dengan pengangkatan Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai perdana menteri Fatimiyah, sebab ia tidak percaya sedikitpun terhadap orang-orang Syi’ah meskipun mereka menampakkan keikhlasan. Oleh sebab itulah sultan meminta Shalahuddin Al-Ayyubi menjadikan do’a khutbah jum’at ditujukan kepada khalifah Abbasiyah yang selama ini diberikan kepada khalifah Fatimiyah
Kerenggangan hubungan sultan Nuruddin Mahmud dengan Shalahuddin Al-Ayyubi juga karena kekhawatiran sultan Nuruddin jika kelak Shalahuddin Al-Ayyubi menjadi penguasa tunggal dunia timur jika ia menguasai Mesir seluruhnya, tapi analisa ini jauh dari kebenaran, sebab seluruh amir dan sultan ketika itu mempunyai tujuan yang sama untuk mempertahankan Islam dan menangkal serbuan tentara-tentara salib tanpa memikirkan di tangan siapa hal tersebut dapat direalisasikan
Namun Shalahuddin Al-Ayyubi menanggapi sikap sultan Nuruddin Mahmud dengan bijaksana, meskipun sultan Nuruddin Mahmud tidak menyukai pengangkatannya sebagai perdana menteri, ia tetap menunjukkan ketaatan dan kepatuhannya serta tidak keluar dari jama’atul muslimin, ia justru berusaha mewujudkan ambisi sultan Nuruddin Mahmud yang ingin menghancurkan negara Syi’ah dan mendirikan negara Sunni. Shalahuddin Al-Ayyubi menjabat sebagai perdana menteri negara Fatimiyah selama dua tahun enam bulan, dan sultan Nuruddin Mahmud meninggal tahun 570 H
III.           Hikmah yang dapat dipetik
Dari kisah perang salib di mesir dan berbagai dinamikanya, banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil, di antaranya adalah bahwa kemenangan kaum musimin akan dapat tercapai selain karena aqidah salimah mereka juga jika kaum muslimin bersatu dalam menghadapi musuh-musuhnya, berbagai penghianatan sering terjadi oleh musuh Islam terhadap Islam, bahkan seringkali orang dalam yang berkhianat, oleh karena itu pembinaan mental dan ruhiyah sangat diperlukan sebelum pasukan diterjunkan ke medan perang
Taktik yang jitu juga memiliki andil yang besar untuk memperoleh kemenangan dalam sebuah pertempuran dan peperangan, jadi diperlukan komandan dan pasukan yang terlatih, yang menguasai medan, dan mampu bertindak tepat dalam menghadapi sebuah keadaan, juga ketaatan pasukan kepada pemimpin mereka.

Referensi:
-       Terjemah Tarikh Khulafa’, Imam As-Suyuthi, Penj; Samson Rahman, Cet ke5, Pustaka Al-Kautsar, Jln Cipinang Muara Raya No. 63
-       Wajah Dunia Islam Dari Bani Umayyah Hingga Imperialisme Modern, DR. Muhammad Sayyid Al-Wakil, Penj; Fadhil Bahri Lc, Cet ke6, Pustaka Al-Kautsar, Jln Cipinang Muara Raya No. 63

Tidak ada komentar: